Mencari Gubernur Yang Problem Solver

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInEmail this to someone

Oleh: Aliansi Nusantara 

Jakarta,- Gonjang-ganjing pilkada DKI telah menyita banyak perhatian publik, terutama yang terkait dengan ketiga figur paslon. Pilkada kali ini memang luar biasa, artinya sangat berbeda dengan pilkada-pilkada sebelumnya. Pilkada kali ini melibatkan pertarungan dan gengsi dari sejumlah tokoh nasional dan seakan menjadi pertarungan lanjutan dari Pilpres 2014, maka tidak salah jika ada yang menyebut Pilkada ini beraroma pilpres.

Ketiga paslon merepresentasikan ketiga tokoh politik paling berpengaruh saat ini, Megawati Soekarnoputri, SBY dan Prabowo Soebianto. Pertarungan ketiga tokoh besar inilah yang sangat memberikan warna dalam pilkada DKI. Megawati mewakili kelompok penguasa yang secara kebetulan menjagokan incumbent, sedangkan SBY yang baru saja mengakhiri kekuasaannya notabene tengah menyiapkan suksesornya yakni AHY dan Prabowo Soebianto yang diwakili oleh paslon Anies-Sandi. Hal ini semakin meyakinkan kita terhadap pendapat yang mengatakan bahwa ini sesungguhnya adalah masalah gengsi dan pertarungan lanjutan bahkan sekaligus pemanasan menjelang Pilpres 2019.

Pendapat-pendapat ini seakan melupakan kita semua dari esensi pilkada sesungguhnya, yakni mencari pemimpin DKI yang mampu mencarikan solusi bagi problem di Jakarta. Betul, memang Jakarta adalah kota yang penuh sesak dengan masalah, sehingga banyak yang pesimis dan beranggapan siapapun yang akan terpilih sebagai gubernur, tidak akan ada perubahan alias begini-begini saja. Anggapan ini tidak bisa disalahkan, karena rakyat khawatir kemungkinan program-program yang ditawarkan paslon hanyalah pepesan kosong belaka, termasuk incumbent. Ini bukan tanpa alasan, karena setiap kali pilkada usai, justru seringkali yang terjadi adalah anti klimaks. Janji hanya tinggal janji, rakyat tetap digusur, PKL di kejar-kejar, banjir tambah parah, kemacetan semakin menggila dan lain sebagainya.

Rakyat sadar betul bahwa hidup di Jakarta saat ini sudah banyak beban yang harus dipikulnya, setidaknya dari biaya hidup yang tinggi (dengan adanya kenaikan-kenaikan harga), kemacetan yang membuat stress dan persaingan hidup yang semakin ketat. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan tahun 2014 menyebutkan terdapat 1 juta jiwa pasien gangguan jiwa berat dan 19 juta pasien gangguan jiwa ringan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 385.700 jiwa (2,03%) pasien gangguan jiwa terdapat di Jakarta.

Jadi sesungguhnya harapan rakyat Jakarta tidak terlalu tinggi, mereka hanya ingin siapapun Gubernur terpilih tidak menambah beban hidup mereka. Gubernur DKI haruslah sosok yang mampu mengayomi dan mampu mencari jalan keluar bagi permasalahan hidup yang mereka hadapi. (BUD)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*