Mengalahkan Teror Dengan Toleransi Umat

T. Budiman Soelaim (Ketua Umum ALIANSI NUSANTARA)
Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInEmail this to someone

T. Budiman Soelaim (Ketua Umum ALIANSI NUSANTARA)

 

Jakarta, Aliansi Nusantara- Peristiwa teror bom molotov di Gereja Oikumene Samarinda (13/11/2016) yang lalu, memang pantas dikecam oleh seluruh masyarakat di tanah air. Berbagai aksi solidaritas yang dilakukan masyarakat dibeberapa tempat menunjukkan bahwa mereka tidak mentolerir tindakan pelaku. Apapun alasan yang menjadi tujuan pelaku tidak mungkin dibenarkan oleh bangsa yang menjunjung tinggi perbedaan dan keberagaman. NKRI didirikan oleh para pendahulu dengan berbagai latar belakang perbedaan sudah menunjukkan bahwa negara ini mengedepankan kebersamaan dalam mewujudkan cita-cita berbangsa dan bernegara.

UUD 1945 Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 berbunyi: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya. Konstitusi sudah jelas meletakkan dan menjamin kegiatan beribadah bagi setiap warga negaranya. Jadi jika ada kelompok yang berupaya untuk meghalangi kegiatan ibadah umat beragama, berarti tindakan itu sudah keluar dari semangat dan cita-cita  luhur bangsa.

Pengamat politik dari Aliansi Nusantara Budiman Soelaim berharap pihak intelijen dapat mendeteksi dini segala bentuk aktivitas teror di negeri ini. “Jika memang pelaku mantan napi teroris, pastilah aktivitas mereka dipantau oleh intelijen”, kata Budiman.

Deteksi dini, lanjut Budiman, seharusnya juga dilakukan oleh masyarakat dengan meningkatkan kepekaan terhadap aktivitas-aktivitas yang mencurigakan disekitar lingkungan mereka. “Aparat keamanan harus memberikan pelatihan dan pemahaman kepada rakyat mengenai ciri-ciri aksi terorisme,” katanya.

Pria yang lahir di Kota Palembang ini menjelaskan, kunci melawan terorisme adalah dengan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat melawannya. Aksi terorisme tidak dapat hanya dipandang sebagai persoalan agama, menurut Budiman teror terhadap tempat ibadah sudah dialami oleh tempat ibadah berbagai agama. Sentimen agama harus dilawan dengan meningkatkan toleransi antar umat dalam setiap lapisan masyarakat. “Jika itu dilakukan, teror dengan issue sentimen agama tidak akan berpengaruh di masyarakat,” kata Budiman.(TAB)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*