Pilkada Serentak Ujian Demokrasi Di Daerah

Suasana Serial Dialog Nusantara Pilkada 2017 yang dilaksanakan Aliansi Nusantara. Acara bertajuk "Menguji Sistem Demokrasi Di Daerah" ini dilaksanakan pada Kamis (29/9/2016) di Gedung Nusantara V Komplek Parlemen Senayan Jakarta. (Foto: Dok. Aliansi Nusantara).
Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInEmail this to someone

Suasana Serial Dialog Nusantara Pilkada 2017 yang dilaksanakan Aliansi Nusantara. Acara bertajuk “Menguji Sistem Demokrasi Di Daerah” ini dilaksanakan pada Kamis (29/9/2016) di Gedung Nusantara V Komplek Parlemen Senayan Jakarta. (Foto: Dok. Aliansi Nusantara).

 

Jakarta, Aliansi Nusantara, – Pilkada serentak gelombang kedua akan segera dilaksanakan Februari 2017. Masyarakat, melalui media, sudah mulai disajikan akrobatik-akrobatik politik. Aliansi Nusantara melihat ini sebagai ujian bagi sistem demokrasi di daerah. Masyarakat diajak untuk melaksanakan pesta demokrasi dengan sehat dan cerdas, maka pada Kamis (29/9/2016) bertempat di gedung Nusantara V Komplek Parlemen Senayan Jakarta, Aliansi Nusantara melalui program Serial Dialog Nusantara menggelar dialog bertajuk “Pilkada 2017, menguji sistem demokrasi di daerah”.

Hadir sebagai pembicara Pengamat Hukum Tata Negara Dr. Margarito Kamis, senator Dr. Abd. Aziz Khafia (DKI), Ahmad Kanedy senator Bengkulu dan Ghazali Abbas Adan senator dan politisi senior dari Nangroe Aceh Darussalam, bertindak sebagai  keynote speech Prof. Dr. Farouk Muhammad Wakil Ketua DPD RI.

Margarito Kamis mengatakan bahwa regulasi yang mengatur pilkada menjadi percuma jika semangat untuk berbuat curang masih sangat tinggi. Kecurangan-kecurangan dalam pilkada tidak mampu ditindak dengan tegas, apalagi dengan semakin kuatnya permainan money politic. “Seolah-olah orang-orang berduitlah yang layak menjadi calon kepala daerah,” ungkap Margarito.

Dalam kesempatan itu, senator Aceh Ghazali Abbas Adan menceritakan pengalamannya ketika mencalonkan diri menjadi Gubernur Aceh. Ghazali mengatakan di Aceh nyaris tidak ada demokrasi. Konstituen selalu dibayang-bayangi ketakutan akan ancaman pembunuhan jika tidak memilih kandidat yang diinginkan si pengancam.

Sedangkan Ahmad Kanedy senator Bengkulu yang juga sekaligus mantan Walikota Bengkulu menceritakan tips-tips nya terkait pilkada. Senator yang akrab dipanggil Bang Ken ini berpendapat bahwa uang bukanlah segala-galanya dalam pilkada, kerja keras dan pendekatan yang tepat menjadi faktor penting seorang kandidat dipilih konstituennya.

Di sisi lain, Abd. Aziz Khafia senator DKI menyoroti soal peran media, menurut Aziz media menjadi kekuatan dahsyat dalam pencitraan politik, sehingga banyak calon kepala daerah berlomba-lomba mendekati pemimpin-pemimpin parpol yang sekaligus pemilik media. Dia juga menyoroti fenomena pilkada DKI, menurutnya parpol-parpol tidak konsisten dalam melakukan proses penjaringan calon. ”Orang yang sama sekali tidak mendaftar dan megikuti proses penjaringan, kok bisa dicalonkan,” kata Aziz. (TAB)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*