Siapa Berhak Suara Agus-Sylvi

Share this...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInEmail this to someone

Oleh: Aliansi Nusantara

Jakarta,- Sejak Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan pidato kekalahannya, banyak spekulasi beredar yang diiringi dengan berbagai macam pendapat dan ramalan-ramalan politik terkait putaran kedua Pilkada DKI. Dalam iklim demokrasi saat ini tentu tidak ada masalah karena semua orang bebas mengemukakan pendapatnya, apalagi ditambah maraknya pertumbuhan media sosial.

Pertama, yang patut dicermati adalah sikap ksatria AHY. Dia dengan cepat dan tegas menyatakan kekalahannya, bahkan langsung menghubungi kedua pasangan calon (paslon) pesaingnya. Jika belajar dari pilkada-pilkada sebelumnya, yang dipertontonkan kepada masyarakat biasanya justru adalah semangat tidak mau kalah. Sikap ini biasanya ditunjukkan paslon yang kalah melalui beberapa macam aksi, misalnya protes kepada panitia penyelenggara, tidak terima dengan kecurangan-kecurangan yang terjadi, bahkan ada yang mengerahkan massa besar-besaran yang berakhir anarkis. Sikap AHY patut diacungi jempol dan pantas ditiru oleh politisi-politisi yang akan berkompetisi di pilkada maupun pemilu bahkan pilpres.

Sekarang pertarungan sedikit bergeser, upaya-upaya keras agar dapat merebut 16% – 17% suara yang diraih paslon AHY-Sylvi mulai digencarkan. Paslon Nomor 2 Basuki-Djarot melalui parpol-parpol pendukungnya mulai bergerilya. Misalnya, pernyataan Ketum Partai Golkar Setya Novanto yang mengatakan akan segera menemui SBY dalam upaya mengalihkan suara AHY-Sylvi ke Basuki-Djarot. Sementara Anies-Sandi langsung menggelar pertemuan dengan pendukung AHY-Sylvi di Menteng, difasilitasi Alex Asmasoebrata dari KNMI (Komite Nasional Masyarakat Indonesia).

Hal ini menunjukkan bahwa suara AHY-Sylvi akan menjadi faktor penting dalam menentukan kemenangan menuju DKI 1. Padahal kita semua melihat bagaimana sengitnya persaingan dalam kampanye lalu. Paslon 1 diserang habis-habisan dengan berbagai isu dan strategi pasangan lain. Kembali ini membuktikan bahwa politik itu sangat cair alias tidak ada lawan dan kawan abadi.

Ada langkah pemanasan yang harus dicermati oleh kita semua, yaitu pemungutan suara ulang di dua TPS. TPS 001 Utan Panjang Jakarta Pusat dan TPS 029 Kalibata Jakarta Selatan adalah dua TPS yang harus diulang karena beberapa pertimbangan. Kita tidak akan membahas pertimbangan yang mewajibkan dilakukannya pemungutan suara ulang, akan tetapi langsung pada hasilnya yang dapat kita cermati. Di TPS 001 Utan Panjang Jakpus misalnya, Paslon No, 2 yang pada pemungutan suara tanggal 15/2/2017 berhasil menempati posisi tertinggi dengan 198 suara, ketika diadakan PSU tanggal 18/2/2017 justru kalah dari Paslon No.3 yang naik keperingkat pertama. Sementara di TPS 029 Kalibata tetap menempatkan paslon 3 sebagai pemenang namun terjadi penambahan suara karena adanya peralihan suara paslon 1.

Dari pemanasan tersebut, kita dapat membaca bahwa ada peluang besar yang akan didapat oleh paslon 3 dalam pilkada DKI putaran kedua. Hal ini dimungkinkan karena beberapa hal, seperti perspektif pemilih dari sudut pandang agama, pemilih AHY dari kelompok muda kecenderungan akan berpindah ke Anies-Sandi yang dianggap representasi dari kalangan muda, dan sentimen anti kelompok dari ras tertentu. Memang ketiga hal ini masih dapat diperdebatkan, akan tetapi sebagai prediksi awal rasanya hal tersebut tidak ada masalah dan tidak akan meleset terlalu jauh.(BUD)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*